Di Tengah Gelombang PHK, Kenapa Usaha Laundry Justru Tumbuh?

Di tengah gelombang PHK massal, bisnis laundry justru tumbuh. Kok bisa? Ini cerita nyata dari pemilik di Rungkut.

Bos, mesin cuci 3 itu lagi mati. Sudah ketiga kalinya dalam seminggu. Anak buah saya panik. Saya baru saja telepon ke service Electrolux-jawabannya, "Tunggu 5 hari." Padahal pelanggan nunggu cucian sejak pagi.

Waktu itu, April lalu. Di sebuah ruko kecil di Jalan Kalijudan, Surabaya. Modal awal Rp10,7 juta. Dua mesin LG bekas, satu setrika manual, dua karyawan-dari tetangga sekitar.

Emang nggak kayak perusahaan besar yang bisa pilih-pilih karyawan. Tapi justru karena itu, kita jadi lebih waspada. Kalau mesin rusak, orangnya tidak bisa diganti instan. Dan saya nggak mau jadi penyebab PHK di usaha sendiri.

Kenapa Laundry Kiloan Bisa "Bebas" dari Gempa PHK?

Semua berawal dari data yang bikin jantung berdebar. Laporan CNBC Indonesia mengungkap PT Xacti Indonesia PHK 350 pekerja karena kondisi global yang tak menentu.

Nggak sedih? Saya beneran ngerasa kasihan. Tapi kok malah terpikir: "Ternyata bisnis yang makin kecil bisa lebih aman?"

Bayangin: mereka punya sistem ERP, HRD, rapat mingguan, dan aturan ketat. Lalu tiba-tiba - brrr, keluar dari papan pengumuman.

Lain hal dengan usaha laundry kiloan kecil. Nggak ada manajer HR, nggak ada rapat bulanan. Cuma dua orang. Tapi… justru karena itulah, kita fleksibel banget. Kalau omzet turun, kita pangkas gaji dulu sementara. Tidak perlu proses formal. Tidak perlu ijin dinas. Ngomong langsung, “Kita lewatin ini bareng-bareng.”

Karena semua punya kulit tipis. Kalau salah satu bagian jatuh, semua ikut kegoyangan. Jadi kita belajar hidup tanpa terlalu banyak ‘tumpukan’.

Strategi Hidup di Zaman Ketidakpastian (Tanpa Harus Mewariskan Job Loss)

Ini bukan soal besar atau kecil. Ini soal kekebalan. Seperti mikroorganisme yang bertahan di lingkungan buruk. Nah, begini cara kami menjaga agar laundry tetap hidup, bahkan saat dunia sedang susah:

  • Pilih Mesin Bekas yang Jelas-Jelas Tahan Banting - Saya beli dua mesin LG dual drum second hand dari dealer di Gresik. Harga cuma Rp3,5 juta total. Tidak cantik, tapi pakai hingga empat tahun tanpa ganti bearing. Beli baru mahal, risiko rusak cepat tinggi.
  • Gunakan Teknologi Kecil, Tapi Efektif - Saya beli timer digital murah dari Tokopedia, Rp120 ribu. Terus disambung ke timer mesin utama. Dulu mesin nyala terus sampe habis air. Sekarang, hemat 25% air dan listrik tiap bulan. Itu artinya uang lebih dari Rp2 juta/bulan untuk dipakai ke biaya lain.
  • Diversifikasi Pelanggan, Jangan 'Nempel' ke Satu Komunitas - Sebelumnya, saya hanya layani penghuni apartemen di depan ruko. Kena PHK, mereka semua kabur. Sekarang, saya buka layanan antar ke kos-kosan di Rungkut Timur. Tarif per kilo diturunkan 10%, tapi volume naik 40%. Dua kali seminggu, mobil box kecil berkeliling.
  • Menggunakan Deterjen Bulk Bukan Sachet - Waktu pertama, saya pakai sachet Downy. Bayar Rp45 ribu per 250 gram. Setelah lima bulan, saya beralih ke Molto sachetan 5 kg. Harganya Rp95 ribu. Jadi 1 kg cukup buat 30 cucian. Sekali beli, langsung tahan sampai 3 bulan. Biaya per cucian turun dari Rp1,300 jadi Rp850.
  • Simpan Uang Darurat 3 Bulan, Jangan Dipakai Buat Renovasi - Saya buat rekening terpisah. Tiap bulan, sisihkan 10% dari laba bersih. Kalau omzet turun, bisa dikuras. Tidak perlu minta pinjaman. Dulu waktu ekonomi lesu, saya pakai ini buat bayar gaji karyawan selama dua bulan. Ga sampai PHK.

Studi Kasus: Laundry di Rungkut yang "Ngacir" dari Krisis

Begini ceritanya: Mas Adi, pemilik laundry di Gang Manggis, Rungkut. Bangun usaha dari nol tahun 2021. Modal Rp6,8 juta. Dua mesin Samsung bekas, satu setrika elektrik, satu anak kuli.

Tahun 2023, ada ancaman PHK dari perusahaan tempat dia kerja sebagai pegawai IT. Butuh alternatif. Dia langsung tutup lapak kecilnya, pindah ke rumah sewaan di belakang masjid. Buka di ruang kecil, cuma tiga meter persegi. Pakai satu mesin cuci elektrik dan satu setrika.

Omset mulai naik saat pandemi usai. Tidak ada kompetitor di daerah itu. Orang-orang mencari tempat cuci yang dekat dan murah. Jumlah pelanggan naik dari 15 ke 70 per hari. Tidak butuh tenaga kerja baru. Mas Adi sendiri yang ambil cucian, cuci, setrika, antar.

“Saya nggak ngincar kaya. Cuma ingin tenang,” katanya. “Kalau bisnisku bisa jalan tanpa harus cari investor atau bank, kenapa harus panik?”

Yah, di tengah heboh PHK di pabrik, ternyata usaha seperti ini justru jadi shelter. Tidak butuh izin besar. Tidak butuh sistem HR. Tidak perlu menunggu rapat board of directors. Cukup ngecek apakah mesin nyala, air cukup, dan pelanggan datang.

Insight: Bisnis Kecil Bisa Lebih Tangguh Saat Dunia Jebol

Banyak yang bilang, bisnis laundry itu rentan. Salah satunya karena banyak pesaing. Tapi justru karena itu, kita terbiasa hidup dalam tekanan. Belajar beradaptasi. Menghitung cost per kilo. Menyeimbangkan biaya dan pendapatan.

Bedanya: perusahaan besar mengandalkan struktur. Kita mengandalkan rasa saling percaya. Antar satu sama lain. Tidak bisa main-main. Kalau tidak jujur, pelanggan langsung pindah.

Saat teknologi berkembang, seperti yang disampaikan oleh Chairul Tanjung dari CT Corp, penting untuk paham sistem digital. Tapi tidak harus mahal. Coba aplikasi pencatat cuaca, atau WhatsApp reminder untuk pelanggan. Itu sudah cukup untuk langkah pertama.

Jadi, jangan takut buka usaha laundry kiloan. Bukan karena aman, tapi karena fleksibel. Tidak mudah jatuh. Dan jika suatu saat kamu punya 2 karyawan, maka kamu juga punya kekuatan yang bisa membuat mereka tetap kerja, tanpa PHK.

Yang penting, jangan jadi pengusaha yang malu pakai tangan sendiri. Cuci sendiri, antar sendiri. Berarti kamu belum tersingkir dari realitas.

Kalau kamu merasa penasaran, atau mau mulai digitalisasi dengan cara yang ringan dan nyata, Lark Laundry bisa jadi langkah pertama yang pas.

Sumber Referensi

Siap mengelola bisnis laundry Anda lebih efisien?

Coba Lark Laundry sekarang — mulai dari Rp 23.000/bulan.

Daftar Sekarang